Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Aktivitas Vulkanik Masih Dipantau Ketat

Oleh ADJDEV 9 September 2026
Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Aktivitas Vulkanik Masih Dipantau Ketat

LAMPUNG, 9 September 2026 – Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menjadi perhatian setelah mengalami peningkatan aktivitas vulkanik dalam beberapa hari terakhir. Erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam sejak Jumat malam, 4 September 2026, menghasilkan semburan abu vulkanik dan fenomena lava yang terlihat dari kawasan pemantauan.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat episode erupsi menerus mulai terjadi pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Meski episode erupsi tersebut telah berakhir, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau dan statusnya tetap berada pada Level III atau Siaga.

Aktivitas Erupsi Berlangsung Lebih dari 25 Jam

Badan Geologi menjelaskan bahwa sebelum erupsi menerus tersebut, Gunung Anak Krakatau telah menunjukkan rangkaian aktivitas erupsi tipe Strombolian. Aktivitas tersebut menghasilkan lontaran material pijar dan abu vulkanik.

Pada fase erupsi menerus, aktivitas gunung api disertai suara gemuruh. Dari Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau Pasauran, semburan berwarna merah menyala terlihat secara terus-menerus. Fenomena tersebut disebut menyerupai lava fountain atau air mancur lava, yang dapat menghasilkan aliran lava.

Ratusan Ribu Penumpang Terdampak

Abu vulkanik Anak Krakatau sempat menyebabkan gangguan terhadap transportasi udara. Sejumlah bandara, termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta, mengalami penghentian atau pembatasan operasional karena pertimbangan keselamatan penerbangan.

Menurut laporan Reuters, gangguan akibat abu vulkanik tersebut berdampak terhadap lebih dari 340.000 penumpang dan menyebabkan hampir 3.000 penerbangan mengalami pembatalan atau penundaan. Sejumlah bandara kemudian mulai dibuka kembali setelah kondisi abu di jalur penerbangan membaik.

Status Gunung Anak Krakatau Masih Level III

Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Level III (Siaga). Status tersebut telah berlaku sejak 2 Juli 2026, ketika Badan Geologi menaikkan status aktivitas gunung dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).

Dengan status tersebut, masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawasan kawah. Kawasan di sekitar Gunung Anak Krakatau perlu dihindari untuk mengantisipasi potensi bahaya dari aktivitas erupsi, lontaran material vulkanik, serta perubahan aktivitas gunung api.

Tidak Perlu Panik, Tetapi Tetap Waspada

Meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali mengingatkan masyarakat terhadap sejarah panjang kawasan Selat Sunda.

Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api yang tumbuh di kawasan kaldera Krakatau setelah letusan besar Krakatau pada 1883. Aktivitas vulkaniknya kemudian terus membentuk tubuh gunung baru tersebut.

Pada 22 Desember 2018, longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau yang berkaitan dengan aktivitas erupsi memicu tsunami di Selat Sunda dan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Karena itu, aktivitas Anak Krakatau selalu mendapatkan perhatian khusus dari lembaga pemantauan gunung api dan kebencanaan.

Namun, masyarakat tidak dianjurkan mengambil kesimpulan bahwa setiap erupsi Anak Krakatau otomatis akan menyebabkan tsunami. Pemerintah dan lembaga terkait terus melakukan pemantauan berdasarkan data kegempaan, deformasi, visual, serta parameter vulkanologi lainnya.

Masyarakat Diminta Mengikuti Informasi Resmi

Badan Geologi mengimbau masyarakat tidak mudah mempercayai video atau informasi mengenai erupsi Gunung Anak Krakatau yang beredar di media sosial sebelum mendapatkan konfirmasi dari sumber resmi.

Informasi resmi mengenai perkembangan Gunung Anak Krakatau dapat diperoleh melalui Badan Geologi, PVMBG, dan MAGMA Indonesia.

Dengan aktivitas yang masih berlangsung, masyarakat di sekitar Selat Sunda diimbau tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta mengikuti arahan pemerintah dan petugas di lapangan.

Gunung Anak Krakatau masih aktif dan aktivitasnya belum sepenuhnya berhenti. Pemantauan terus dilakukan untuk memastikan perkembangan kondisi gunung api dapat diketahui sedini mungkin.