Zelensky Desak Dunia Tingkatkan Tekanan ke Rusia Usai Serangan Drone Kembali Tewaskan Warga Sipil

Oleh Zxiesct 10 September 2026
Zelensky Desak Dunia Tingkatkan Tekanan ke Rusia Usai Serangan Drone Kembali Tewaskan Warga Sipil

INTERNASIONAL, 10 SEPTEMBER 2026 – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mendesak komunitas internasional untuk meningkatkan tekanan terhadap Rusia setelah serangkaian serangan udara kembali menewaskan dan melukai warga sipil di Ukraina.

Desakan tersebut muncul ketika serangan drone Rusia kembali menghantam sejumlah wilayah. Serangan terbaru dilaporkan menyebabkan korban di kawasan perbatasan Ukraina-Moldova serta memicu kebakaran dan gangguan aktivitas di Kyiv.

Serangan Drone Hantam Perbatasan Ukraina-Moldova

Menurut laporan Reuters, serangan drone Rusia di wilayah Odesa menghantam kawasan perlintasan perbatasan antara Ukraina dan Moldova. Sedikitnya dua orang dilaporkan tewas dan tiga lainnya mengalami luka-luka.

Serangan tersebut menyebabkan aktivitas di titik perlintasan Starokozache terganggu. Kawasan perbatasan memiliki peran penting bagi Ukraina karena jalur perdagangan darat semakin dibutuhkan setelah serangkaian serangan terhadap infrastruktur dan pelabuhan di kawasan Laut Hitam.

Di Kyiv, serangan drone lainnya juga menyebabkan korban. Seorang warga dilaporkan meninggal dunia, sementara 14 orang lainnya mengalami luka-luka dalam serangan yang memicu kebakaran di sejumlah lokasi.

Zelensky Minta Dunia Bertindak Lebih Tegas

Menanggapi peningkatan serangan tersebut, Zelensky menilai respons internasional terhadap serangan Rusia masih belum cukup kuat.

Menurut laporan Associated Press, Ukraina mengalami peningkatan serangan udara terhadap wilayah sipil sejak akhir Agustus. Kyiv bahkan menghadapi salah satu periode bombardir paling berat sejak invasi besar-besaran Rusia dimulai lebih dari empat tahun lalu.

Zelensky menyerukan agar negara-negara lain meningkatkan tekanan terhadap Moskow melalui langkah politik, diplomatik, dan ekonomi. Ukraina khawatir serangan terhadap wilayah sipil akan terus meningkat menjelang musim dingin.

Korban Sipil Terus Bertambah

Perang yang berkepanjangan terus memberikan dampak besar terhadap warga sipil. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dikutip Associated Press menunjukkan bahwa pada Juli lalu, jumlah korban sipil di Ukraina menjadi yang tertinggi sejak Maret 2022.

Dalam periode tersebut, lebih dari 437 warga sipil dilaporkan tewas dan sekitar 2.600 orang mengalami luka-luka. Serangan menggunakan rudal dan drone terus menjadi ancaman utama bagi berbagai kota di Ukraina.

Rusia disebut terus melancarkan serangan terhadap kawasan perkotaan dan infrastruktur penting. Ukraina sendiri juga meningkatkan serangan jarak jauh menggunakan drone terhadap sejumlah fasilitas militer dan energi Rusia.

Ukraina Balas Serang Target Rusia

Di tengah serangan yang terus berlangsung, Ukraina juga melancarkan operasi drone jarak jauh terhadap target di wilayah Rusia.

Serangan balasan dilaporkan menyasar sejumlah infrastruktur penting, termasuk fasilitas energi dan target militer. Beberapa operasi bahkan dilakukan terhadap lokasi yang berjarak ribuan kilometer dari wilayah Ukraina.

Situasi ini menunjukkan bahwa perang Rusia-Ukraina masih jauh dari kata selesai. Kedua pihak terus melakukan serangan balasan, sementara upaya diplomatik untuk menghentikan konflik belum menghasilkan kesepakatan yang jelas.

Upaya Perdamaian Masih Menghadapi Jalan Terjal

Amerika Serikat dan sejumlah negara lain masih berupaya mendorong penyelesaian diplomatik. Namun, perkembangan terbaru di medan perang menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian masih menghadapi banyak hambatan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin ingin membuat kesepakatan untuk mengakhiri perang. Namun, laporan mengenai serangan udara yang kembali meningkat membuat banyak pihak mempertanyakan seberapa dekat peluang tercapainya perdamaian.

Dengan serangan drone yang kembali meningkat dan korban sipil terus bertambah, tekanan internasional terhadap Rusia diperkirakan akan kembali menjadi salah satu isu utama dalam politik global hari ini.

Bagikan: